SADARI, Langkah awal deteksi dini Kanker Payudara

SADARI, Langkah awal deteksi dini Kanker Payudara

Kasus kanker payudara di negara berkembang telah mencapai lebih dari 580.000 kasus pada setiap tahunnya dan kurang lebih 372.000 pasien atau 64% dari jumlah kasus tersebut meninggal karena penyakit ini.

Kanker payudara di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim. Diperkirakan 10 dari 100.000 penduduk terkena kanker payudara dan 70% dari penderita memeriksakan dirinya pada keadaan stadium lanjut. Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah penderita tidak tahu atau kurang mengerti tentang kanker payudara, kurang memperhatikan payudara, rasa takut akan operasi, percaya dukun atau tradisional dan rasa malas serta malu memperlihatkan payudara (Sutjipto,2009). 

Dalam perkembangan teknologi dunia kedokteran, ada berbagai macam cara untuk mendeteksi secara dini adanya kelainan pada payudara, diantaranya dengan thermography, mammography, ductography, biopsi dan USG payudara. Disamping itu ada juga cara yang lebih mudah dan efisien untuk dapat mendeteksi kelainan payudara oleh diri sendiri yang dikenal dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan salah satu langkah deteksi dini untuk mencegah terjadinya kanker payudara yang akan lebih efektif jika dilakukan sedini mungkin ketika wanita mencapai usia reproduksi (Suryaningsih, 2009).

Pada usia 20 tahun seorang wanita dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pada payudaranya sendiri setiap bulan atau setiap tiga bulan sekali untuk dapat mendeteksi secara dini jika terdapat kelainan dan segera mendapatkan penanganan yang tepat (Setiati, 2009).

Salah satu kelompok yang telah mencapai usia tersebut adalah mahasiswi. Pada saat itu seorang mahasiswi memasuki tahap perkembangan remaja akhir (adolescence)

Berikut merupakan langkah-langkah pada SADARI :

  1. Melihat

Meliputi bentuk dan ukuran, puting lurus ke depan atau tertarik ke dalam, puting atau kulit ada yang lecet atau tidak, warna kulit tampak kemerahan atau tidak, tekstur kulit tampak menebal dengan pori-pori melebar atau mulus, tampak adanya kerutan, cekungan atau tidak (payudara yang normal adalah payudara dengan bentuk sempurna tanpa perubahan warna, tekstur dan pembengkakan).

  1. Memijat

Secara lembut pijat payudara dari tepi hingga ke puting, untuk mengetahui ada atau tidaknya cairan yang keluar dari puting susu (seharusnya tidak ada cairan yang keluar, kecuali sedang menyusui).

  1. Meraba

Dilakukan dengan gerakan memutar mulai dari tepi payudara hingga ke puting, masing-masing gerakan memutar dilakukan dengan kekuatan tekanan berbeda-beda, yaitu:

  • tekanan ringan untuk meraba ada tidaknya benjolan di dekat permukaan kulit
  • tekanan sedang untuk meraba ada tidaknya benjolan di tengahtengah jaringan payudara
  • tekanan cukup kuat untuk merasakan adanya benjolan di dasar payudara, dekat dengan tulang dada.
  1. Meraba ketiak

Raba ketiak dan area di sekitar payudara untuk mengetahui ada tidaknya benjolan (Suryaningsih, 2009).

  1. Hubungan antara tingkat pengetahuan SADARI dengan perilaku SADARI pada mahasiswi

Berdasarkan penjabaran tinjauan pustaka diatas dapat dikatakan bahwa dengan adanya tingkat pengetahuan yang dimiliki tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) akan membentuk kecenderungan sikap positif yang tercermin dalam perilakunya. Hal ini didukung olehpernyataan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dan perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007). SADARI ini dirasa perlu dan efektif untuk dilakukan pada tahap remaja akhir atau kelompok usia perguruan tinggi (17-24 tahun) karena pada batasan usia tersebut (20 tahun lebih tepatnya) merupakan saat yang tepat untuk mulai melakukan usaha preventif deteksi dini terjadinya penyakit kanker payudara, terutama pada kelompok yang berhubungan dengan dunia atau pendidikan kesehatan yang nantinya akan mengaplikasikannya kepada masyarakat luas.

Credit by: Gita Cahaya Fitri (Mahasiswa Semester 3)