NEGERI NESTAPA

NEGERI NESTAPA

(Penulis: Suherni. Mahasiswa Prodi D3 Kebidanan UAA)

 

Kemana para nestapa.

Yang telah dahulu kala.

Yang telah kini dilupa.

Para beranjak keadaan.

Si jalang seorang anak gembala.

Yang menggiring domba-dombanya.

Di desa negeri batas kota.

Segelumit impian hati menjerit.

Di pojok-pojok benteng negara.

Di tahta adidaya kuasa laga.

Mendiangi gubuk-gubuk kecil.

Yang ditanami nestapa jiwa.

Yang serayak tubuh yang dekil.

Semasa tirakat puasa untuk negerinya.

Untuk menghidupi pembesar-pembesar negara.

Untuk menyenangkan yang katanya adi luhung.

Tak layak disebut tempurung kelapa.

Yang mendiami kepala-kepala mereka.

Kentos didalam tempurung.

Sebut saja kelapa kasep tua.

Lambat tak dukurun pagar jerami.

Busuk di makan sendiri.

Anak desa mengupah sana sini.

Demi menghidupi anak istri.

Di lain menyisakan uang dua ribu.

Buat urunan malam tahlilan yang ditunggu.

Majlis permusyawaratan rakyat.

Rapat kemanusiaan yang penuh hikmat.

Realisasi insfratruktur gotong-royong.

Menjunjung menggendong peradaban.

Warisan kanjeng syekh Siti Jenar.

Pemberontak perampok, hak kemanusiaan.

Kala membasmi demit-demit penghegemoni.

Menakut-nakuti rakyat dengan topeng pengelapan.

Serayak apa akan dibuat.

Karena mereka sudah sangat kuat.

Walaupun jeruji kawat mengikat.

Menyekat keadilan yang tak bermartabat.

Serayak apalagi yang akan dituju.

Sudah sangat kasep mereka menunggu.

Anak-anak ku para penerus generasi baru.

Adi cipta adi luhur yang menjunjung tanah airku.

Berjuanglah untuk negerimu.

Bukan untuk keinginanmu.

Open chat