Social Media Distancing di Tengah PANDEMIC CORONA

Social Media Distancing di Tengah PANDEMIC CORONA

Di tengah pandemi Corona, pemerintah dan masyarakat menerapkan anjuran social distancing atau jaga jarak sosial termasuk dengan bekerja di rumah saja atau yang kita kemudian viral disebut WFH ( Working from home) . Aturan social distancing bahkan memaksa sekolah, perusahaan, lembaga pemerintah, dan universitas mengganti proses bekerja dan belajar dari rumah.  Social distancing ini diharapkan akan mengurangi laju persebaran virus covid 19. Social distancing  adalah diberlakukannya jarak 1 – 2 meter dalam berinteraksi  serta menghindari kerumunan dan keramaian yang saat ini mengerucut dalam fenomena WFH.   Upaya ini sebagai upaya menekan laju persebaran  virus dimana proses pembatasan interaksi masyarakat (langsung) yang berpotensi menularkan virus covid 19.

Namun, tidak hanya menjaga jarak secara fisik, ada sesuatu yang kemudian kita abaikan, yaitu social media distancing. Ketika kita lebih banyak waktu dirumah untuk WFH maka mau tidak mau kita pasti akan menggantikan interaksi dengan social media. 90% dari kita yang menggunakan social media juga akan berselancar ke dunia maya. Pada saat inilah banyak sekali informasi yang timbul terkait dengan pandemic covid 19. Informasi yang timbul memang di satu sisi memberikan dampak positif karena menambah wawasan tentang persebaran covid 19 ini. Sehingga akan meningkatkan kewaspadaan bagi kita. Akan tetapi kemudian informasi yang beredar semakin tidak terbendung. Semua kanal informasi berlomba lomba menyajikan berita terkait virus ini. Dari informasi yang bersifat resmi dalam berita tv atau informasi non-formal dalam kanal social media. Semua kanal saling berlomba memberikan informasi ter-update. Hal ini justru berdampak pada kewaspadaan masyarakat yang bergeser ke keadaan cemas dan paranoid (berlebihan) pada orang lain. Kedua hal inilah yang akan menimbulkan ketakutan dan stress. Meskipun hal ini sangat bergantung pada kopping setiap individu. Stress  merupakan keadaan gangguan psikologis pada manusia. Seseorang yang mengalami stress, akan memicu asam lambung yang cenderung meningkat sehingga nafsu makan atau minum berkurang. Keadaan ini akan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun. Saat daya tahan tubuh menurun inilah virus apapun dengan mudah menyerang. Virus ini diibaratkan sebagai peluru, semakin mudah menembak saat kita lemah. Jadi meskipun kita sedang menjalani WHF (work from home) atau SFH (study from home), jaga pikiran dan jiwa kita untuk selalu positive thinking dan  bahagia dengan selalu mengambil hikmah di setiap kejadian. Kita boleh berselancar ke dunia maya tapi pastikan bijaksana dalam memilih dan memilah informasi sehingga tidak panik dan tetap optimistis. Carilah berita berita positif dan menggembirakan tentang kejadian pandemic ini. Pastikan dulu informasi tentang Corona tidak berulang dan tidak hoaks.

Be happy, be healthy…

Salam zero corona

with Love,

Febrina Suci Hati, S.ST., M.Kes (Lecturer on Midwifer Department)

Source Picture: google.com