ICHAA, Konferensi Internasional Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

ICHAA, Konferensi Internasional Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta selalu berusaha untuk meng-update ilmu dengan menyelenggarakan international conference. International Conference on Health of Alma Ata (ICHAA) merupakan konferensi internasional dengan mengusung topic utama Kesehatan ibu dan anak. Salah satu tujuan dari konferensi ini adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif masalah kesehatan ibu dan anak dalam pencapaian SDGs. Kegiatan ini didasari banyaknya permasalahan kesehatan ibu dan anak yang dapat dituntaskan dengan acuan program pembangunan berkelanjutan Sustainable Development Goals tahun 2030 dan perlunya partisipasi aktif baik pemerintah, profesi kesehatan,  organisasi profesi yang  terlibat, organisasi sosial dan kemitraan lainnya, serta masyarakat.

Acara ICHAA diselenggarakan pada hari Minggu 25 Februari 2018 bertempat di Ballroom Indraprasta, Sahid Jaya Hotel & Convention, Yogyakarta. Dalam konferensi ini dihadiri oleh perwakilan kementrian Kesehatan yaitu dr. Eni Gustina, MPH direktur Kesehatan Keluarga  sebagai keynote speaker. Kegiatan ini juga dihadiri oleh pemateri dari Boromrajonani College of Nursing Napparat Vajira, Thailand  yaitu Susheewa Wichaikull, RN.MSN,Ph.D, Prof Betty Ya-Wen Chiu,Ph.D dari Taipei Medical university, Taiwan, Prof. dr. H. Hamam Hadi, M.S., Sc.D., Sp.GK dan Universitas Alma Ata Yogyakarta, Bupati Kulon Progo sekaligus praktisi kesehatan yaitu dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG, praktisi kesehatan Dra. Rina Mutiara, M.Pharm, Apt. dari RS Tjipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta serta Elsi Dwi Hapsari, S.Kp., MS, DS dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Pada diskusi panel pertama, Prof. Betty Chiu menyampaikan bahwa Taiwan dapat mencapai indikator SDGs yaitu peningkatan kesehatan ibu dan penurunan angka mortalitas anak kuncinya dengan memperkuat system pelayanan kesehatan dari level pusat, regional hingga level komunitas. Selain itu, peran dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan, professional kesehatan sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan masyarakat sebagai klien harus bekerjasama untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang ada. Hal ini didukung oleh pernyataan Susheewa Wichaikull, RN.MSN,Ph.D bahwa strategi berskala nasional yang diterapkan di Tailand untuk mencapai indikator SDGs berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak adalah integrasi dari berbagai sektor pemerinta dan publik, ditunjang dengan ekonomi dan filosofi. Kementrian Kesehatan Masyarakat Thailand juga gencar dalam mempromosikan kesehatan pada ibu, anak dan remaja. Sementara Prof. dr. H. Hamam Hadi, menyampaikan harapan bahwa universal coverage dapat menjangkau kesehatan secara keseluruhan karena kesehatan merupakan hak manusia yang paling fundamental.

Pada diskusi panel kedua, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG menyampaikan untukm mencapai indikator SDGs, system kesehatan yg baik butuh dukungan finansial yang kuat sehingga dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak. Universal health coverage butuh kekuatan pemerintahan yang cukup, finansial yang cukup sehingga bisa memunculkan servis yg baik. Dra. Rina Mutiara, M.Pharm, Apt. menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan farmasi haruslah berfokus pada pasien. Sementara menurut Elsi Dwi Hapsari, S.Kp., MS, DS, penyumbang angka mortalitas tinggi pada ibu di Indonesia adalah kematian ibu post partum. Perlu adanya perhatian khusus pada peningkatan pelayanan kesehatan ibu post partum untuk mencapai salah satu indikator SDGs.

Kegiatan konferensi Internasional ini diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa maupun praktisi kesehatan pada umumnya terhadap permasalahan kesehatan ibu dan anak serta bersama-sama mengupayakan peningkatan pelayanan kesehatan pada ibu dan anak.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

four × 5 =